Indonesian who support traveling with family or kids, take photo and diving

18 June 2017

Pengalaman Naik Indonesia Air Asia ke Kuala Lumpur

Bagi saya naik Air Asia kali ini bukan pengalaman yang pertama, tapi tetap saja setiap naik Air Asia ada sesuatu yang perlu diceritakan, ada yang perlu dibagikan. Kali ini flight saya adalah Jakarta - Kuala Lumpur yang memang tujuannya untuk mengikuti even lari Standard Chartered KL Marathon 2017. Even lari saya pertama kali di luar Indonesia.

Saya ternyata tidak naik Air Asia kode AK (Air Asia Malaysia) tetapi naik Indonesia Air Asia, kode QZ, ada bedanya ada samanya. Pertama kesamanya dulu ya...

Pesawat tetap Airbus A320
Armada yang kali ini digunakan tetap Airbus A320-200, yang memang mayoritas Air Asia group menggunakan pesawat ini. Jadi ya tinggal menikmati saja.


Kabin Airbus A320 Indonesia Air Asia (Jakarta - KL)



Kursi tetap lumayan mepet
Hahaha.. bagi yang badannya seperti saya cukup terasa mepet... dasarnya tidak mau bayar lebih ya kursinya dapat yang bukan Hot Seat seperti penerbangan saya dulu dari Bali dengan Air Asia.

Legroom

panel AC dan lampu baca

Tetap ada majalah 3sixty
Majalah 3sixty merupakan inflight magazine milik grup Air Asia, namun kali ini disediakan dua eksemplar majalah 3sixty, satu berbahasa Indonesia dan satu berbahasa Inggris.


majalah 3sixty

Boarding dan Landing di Terminal yang sama
Maksudnya begini, tidak ada beda antara Indonesia Air Asia dan Air Asia, naik dari Terminal 2D (sekarang di Terminal 3 Ultimate) Bandara Soekarno Hatta, dengan fasilitas check in yang sama. Landing di KLIA2 juga fasilitasnya sama, hanya saja kalau beruntung tidak perlu melewati jembatan penyeberangan yang lumayan jauh.. Kalau beruntung..

KLIA2

Menuju Arrival Hall KLIA2

Conveyor Bagasi
Selain itu sama-sama Air Asia ... :) dan keduanya (per Oktober 2017) sama-sama bisa refund airport tax, tetapi biaya proses refund berbeda tergantung dari mana berangkatnya..


Tapi ditengah kesamaannya, ternyata ada perbedaannya lho. Apa aja coba...

Bahasa pengantar utama adalah Bahasa Indonesia
Karena ini merupakan penerbangan pesawat Indonesia Air Asia, hampir mayoritas bahasa pengantarnya adalah bahasa Indonesia, sehingga kita (warga Indonesia) lebih mudah mengerti, kalau bagi pelancong yang bahasa native-nya bukan bahasa Indonesia masih ada tambahan bahasa Inggris dan sedikit Mandarin.


Yang kedua, Bayar Makanan dengan Rupiah
Walaupun menu yang dihidangkan sama, dari buku menu Santan milik Air Asia, bayarnya pakai kurs yang sedikit berbeda. Rupiah.. Nasi Lemak plus minuman dibanderol Rp. 65.000, sedangkan kalau maskapai yang satunya dibanderol RM 20 (kalau gak salah), untuk hal yang sama.


Tapi overall, untuk ketepatan waktu penerbangan cukup oke dan tidak lelet kali ini sampai di KL.. Jika ada yang mengganggu tetap saja beberapa wisman asing yang tidak mematikan ponselnya (dan tidak juga flight mode) saat terbang... walaupun pramugari Air Asia sudah marah-marah dan mewanti-wanti "turn it off, no flight mode!" sebenarnya boleh / tidak ? kalau regulasi di Indonesia sudah jelas tidak ya, tapi kalau regulasi negara asing? saya tidak terlalu tahu.. tapi deg-deg serrr... juga 2 jam dan dihantui rasa was-was..


Oh ya, satu lagi yang saya lupa tentang kesamaannya.. Dan harus dipahami.. Air Asia sangat ketat tentang bagasi kabin, sehingga walaupun koper atau tas yang sepertinya beratnya lebih dari 7 kg akan ditimbang ulang oleh mas-mas yang pake rompi kuning / baju merah ituu.. Mau tidak mau, kalau lebih dari yang ditentukan, akan dikenakan biaya ekstra dan wajib masuk bagasi.. Beberapa pelancong yang satu penerbangan saya terkena imbasnya..


Hal ini ada untungya juga bagi pelancong yang memang membawa bagasi tidak lebih dari 7 kg mudah mencari tempat di ruang bagasi kabin... Karena saya sempat kesulitan mendapatkan bagasi kabin saat naik salah satu LCC.


Untuk rute luar negeri, anda bisa lihat juga posting saya saat naik Air Asia (AK) yang kala itu dilengkapi WiFi dan Air Asia X (D7) untuk penerbangan jarak jauh.

Selamat menentukan maskapai...



2 comments:

Copyright © West Borneo Road Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com