Indonesian who support traveling with family or kids, take photo and diving

30 March 2019

Libur, (dalam kata lain) Berhenti Sejenak

Lama sekali rencana tulisan ini berada di tab draft, berkali-kali ubah judul, ganti sistematika tapi topiknya tetap sama, memaknai arti "libur dari sebuah aktivitas dan berhenti sejenak." Mundur ke belakang, ketika hari-hari itu disibukkan dengan rutinitas pekerjaan, saya gak bisa bilang penat karena emang enjoy banget, i'm really into it.. pergi pagi, pulang malam, pesan ke ponsel masuk 24 jam, sampai rumah berdiskusi dengan keluarga tentang banyak hal dan sebenernya campur aduk (bukan kaya bubur juga sih..). Oya tulisan ini gak usah dibaca seri

"Mungkin awalnya saya berfikir, ah mungkin cuma keinginan saja.. everything already set for us.. why should I start again now?.. tapi lama kelamaan ada juga hasrat untuk mewujudkan bisikan itu."
an opening part from my posting after applying for master degree 

Banyak alasan kenapa akhirnya saya memutuskan untuk "Libur" versi panjang, dan kesemuanya itu seperti alunan nan merdu, ya karena emang ga bisa nyayi mungkin kalau ada problem dikit itu karena saya sendiri sih.. awalnya dari kesempatan tes kemampuan bahasa Inggris (emang program kantor juga) eh nilainya kok lumayan borderline, dipanggil untuk tes beasiswa dari kantor (gagal, ye elu gak belajar, trus emang belom rejeki). Tapi justru ini yang jadi pemantik semangat, lebih tepatnya questioning myself. Sambil menjawab pertanyaan yang timbul itu, ya usaha juga.. gak smooth-smooth juga perjalanannya. Mau tes IELTS atau TOEFL gak segampang yang dikira, wong tinggalnya di kota kabupaten yang mau kemana-mana perlu waktu tempuh yang tidak sedikit untuk ke kota besar tempat diselenggarakannya tes-tes model begituan, kalau belajarnya udah jelas mau gak mau jadi modal yutub, modal buku, bikin English day dengan temen kantor. Tapi justru dorongan terbesar justru ada pada kabar-kabar mau pindah tugas (lagi) dan I'dont know the reason, why i can get job assignment to another department, but why i can't chose my way by myself?

Hari-hari ketika aplikasi untuk sekolah dikirimkan sebenarnya menyenangkan, karena membuat banyak probabilitas dan menyesuaikan dengan kemampuan baik kemampuan akademik, bahasa maupun lainnya. Udah gak mikir, gimana caranya daftar, mau bayar biaya daftar pakai apa yang penting applikasi diterima. Eh... ternyata lebih berat lagi pas dapat LOA unconditional, menatap keluarga serasa berat, berkata pada mereka kalau diterima juga berat, konsekuensinya cuma dua buat kami, ambil atau tinggalkan.

Mengurus unpaid leave juga ternyata menghabiskan waktu banyak, bolak balik ke ibukota karena ya emang disana ngurusnya. Bargaining dengan kantor adalah masalah jurusan, saya ambil master bidang renewable energy, ranking universitas di bidang enjinering, dan penjelasan bahwa gak banyak universitas yang menyediakan program ini, walaupun di Eropa juga ada sebenarnya. But decision is decision, whatever the risk, we must faced it. Berangkat ke Taiwan pun masih berbekal ijin cuti, ijin resemi unpaid leave baru diemail setelah 2 minggu di Taiwan.

College of Engineering, departemen saya yang warna putih, mana hayoo?


College of Engineering menjadi pemandangan selama satu tahun terakhir ini. Pagi ini, sudah sekitar satu tahun saya di sini di Taiwan bagian selatan, sudah mulai semester ketiga, dan sudah lengkap empat musim yang silih berganti untuk menikmati "Libur", berhenti sejenak dari pekerjaan, actually i miss this moment now.. haha.. Menjemput sebuah suratan yang mungkin memang sudah tertulis.


University Road, di saat musim dingin

Berbicara masalah tulisan, di sini, memang "karena niatnya belajar," ternyata luar biasa pengalamannya. Banyak hal, i can't mention it one by one in the simple phrase... Allah memang Maha Besar, justru ketika sedang belajar ini saya diberikan arti kata "belajar" dan baru tahu kalau libur itu ternyata termasuk dalam syarat menuntut ilmu, tidak sekedar akademik, saya juga diberikan pengalaman belajar menjadi seorang bapak, seorang anak dan Warga Negara Indonesia juga memahami esensi menjadi hamba-Nya. 

Finally, mungkin man-made writing sudah tertulis untukmu tapi ternyata bukan itu makna sebenarnya, maknanya adalah kamu tahu walaupun tulisan itu ada ditujukan untukmu, tapi sejatinya itu belum tentu "untukmu" karena yang sesungguhnya memilikinya adalah Dia. Dan Dia telah menulisnya untukku dan diejawantahkan dalam berbagai bentuk pengalaman, untuk pada akhirnya mensyukurinya. Bentuknya? Banyak, mulai dari Professor titelnya empat, pernah jadi direktur research center tapi fleksibilitas-nya untuk mahasiswa bimbinngannya perlu diacungin jempol sampai dikasih kesempatan summer school, ikut international conference di luar negeri, sampai ikut summit, terpenting adalah kesempatan untuk duduk bersama di "karpet merah" sebutan kami untuk basecamp sebuah "Sekolah Peradaban." 

Enam bulan lagi saya harus "mau gak mau" menyelesaikan libur ini, dan kembali ke kantor lagi, hehe.. Jika ada yang membuat saya betah salah satunya adalah makanan dan kedua adalah bubble milk tea. Makanan terbaik yang pernah saya cicipi di sini adalah nasi bakar!



再見!


----

Ditulis setelah submit "tulisan" kedua, じゃあ、日本

0 comments:

Post a Comment

Blog Archive

Copyright © West Borneo Road Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com