Indonesian who support traveling with family or kids, take photo and diving

05 November 2016

Bermain ke Museum Kereta Api Ambarawa Semarang

Jika ada salah satu jenis museum dan tersebar di banyak negara di dunia, maka jawabannya adalah museum Kereta Api. Indonesia memilikinya..... Hebatnya lagi museum inilah satu-satunya yang ada di kawasan asia tenggara... kalo saya gak salah sih.  Museum ini terletak di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.. Dari kota Semarang sekitar 40 km ke arah selatan, bila melewati tol Semarang-Ungaran-Bawen, maka anda keluar di pintu tol Bawen dan ambil ke arah Yogyakarta, dan Ambarawa berada setelah Bawen.

Museum ini dikelola oleh Unit Preservation and Architecture PT Kereta Api Indonesia (Persero), yang bertujuan untuk memelihara warisan sejarah perkeretaapian Indonesia.



Kami sempat mengunjungi museum yang menyimpan hampir seluruh barang-barang yang berbau kereta api ini, dan cukup terkejut juga di Indonesia ada banyak lokomotif tua dan masih bisa dilihat hingga saat ini.

Lokomotif CC 50 29

Yang cukup unik disini adalah koleksinya sangat banyak, dan kebanyakan adalah kereta tua seperti kereta uap, walaupun ada beberapa yang sudah kereta dengan bahan bakar minyak.

Rel berputar, seperti di film animasi Chuggington

Jika ada satu yang membuat anak saya terus berkomentar adalah rel berputar, sejatinya saya gak tau namanya, tapi rel berputar yang seperti sering dilihat di film animasi Chuggington itu terus dibicarakan oleh anak saya sampai-sampai ngebet banget foto disana.



Anda bisa menikmati sensasi naik kereta tua disini dan berjalan dengan lokomotif uap atau diesel, dengan relasi Ambarawa-Tuntang pp tentunya dengan membayar tiket dan ada minimum kuota agar kereta berangkat..

Gerbong Kereta Api

Gerbong barang

Saran saya, salah satu yang perlu ditambah menurut saya untuk menarik pengunjung lain adalah gerbong KRL, terinspirasi dari museum kereta di Jepang yang sangat keren, mungkin dengan adanya tambahan koleksi KRL, gerbong-gerbong yang tersimpan rapi di daerah Purwakarta di bawah ini, bisa menjadi lebih cantik.



Kalau belum sempat ke museum kereta api, main ajaa...

02 November 2016

Weekend di Jogja Bersama Anak

Dul Kemin : Penak yo kerjo ning Jogja..
Saya : Omonge sopo? Tergantung..
Dul Kemin : Lha kok iso?
Saya : Nek itungane penak ki iso ning mall, yo ra penak, aku 2 tahun kerjo ning jogja ra tau ngemall karo anak bojo.. tapi nek itungane pas prei iso bareng keluarga, iku penak..
Dul Kemin : Lha, piye kowe ki?
Saya : Lha tenan je.. aku mlebu mall jogja karo bojoku bar pindah seko Jogja *trus lirik-lirikan*..

Artinya

Dul Kemin : Enak ya kerja di Jogja..
Saya : Kata siapa? Tergantung..
Dul Kemin : Kok bisa?
Saya : Kalau yang dikatakan enak itu bisa ke mall, ya menurut saya enggak enak, saya 2 tahun kerja di Jogja tidak pernah ngemall bareng anak istriku.. tapi kalau enak itu setiap hari libur bisa bersama keluarga, itu enak..
Dul Kemin : Kamu ini gimana sih?
Saya : Beneran lho.. aku masuk mall di jogja bareng istriku setelah pindah dari Jogja *trus saling melihat*...

Tapi memang benar, percakapan tersebut terjadi setelah saya pindah dari Jogja... Setiap weekend adalah waktu untuk keluarga, saya yang workaholic kadang lupa waktu saat bekerja, sampai-sampai untuk kerja saya membuat jaringan internet khusus ke rumah, aksesnya pakai VPN, supaya bisa menembus jaringan khusus kantor.. HT (handy talkie) juga saya bawa pulang.. ya bagi saya mendengar HT berbunyi itu menandakan kejaan lancar, tapi bagi istri dan anak saya mungkin kalo bisa dibanting tuh HT biar diem...

Tidak kategori enak dan tidak enak gak cuma itu, Jogja termasuk kota pariwisata, dan dengan semakin banyaknya spot-spot wisata maka wisatawan sering datang ke Jogja, tiket sering sold out, kalau masih ada harganya mahal.. saya pernah bergumam "Jogja itu susahnya cuma satu, nyari tiket.. mau pulang aja kalah cepat sama wisatawan...."
 
Main layangan di pantai
 
OK... Setiap weekend biasanya istri saya punya bucketlist, mau ngapain aja seperti main layangan di pantai, jadinya saya tinggal manut aja, beberapa aktivitas yang kami lakukan :

Olahraga pagi di UGM
UGM (Universitas Gadjah Mada) setiap weekend membuka beberapa areanya digunakan untuk olah raga atau beraktifitas, apalagi sudah tak seramai dulu, ini menjadi spot menarik buat kami. Sebenarnya yang kami lakukan bukan olahraga juga, cuma main-main dan mengeluarkan energi aja, anak saya termasuk yang dikasih gift powernya berlebih, jadinya harus disalurkan.. Dia sepedaan saya lari atau sekedar menemaninya...

Olahraga


Tak jauh dari lokasi olah raga, kadang jalan ke sunmor (sunday morning).. ya kalau mau beli camilan kadang beli sesuatu di sunmor, kalo ada yang buat males ke sunmor itu cuma jalan kakinya, lumayan juga nggendong anak sambil jalan kaki..

Renang
Walaupun ada kolam renang IKIP, saya menyebutnya begitu, kalau sekarang IKIP udah ganti jadi UNY.. kami jarang renang disana sebenarnya, karena kalau renang di hotel, misal Hotel Jayakarta, Hotel The Rich, ya simpel sih alasannya karena ga rame... dan diajakin temen yang punya voucher, haha...



Sarapan
Membuat sarapan pagi menurut saya adalah hal yang tiba-tiba membuat hectic bagi kaum ibu, termasuk istri saya, dan sabtu-minggu adalah hari yang disukainya... karena gak masak, tinggal menyambangi warung makan trus makan disana.

Menu sarapan yang paling sering kami makan di hari libur adalah bubur ayam, buat anak-anak ini yang paling cocok, selain itu ada soto ayam yang tersebar di beberapa tempat tapi kadang soto kudus, dan tak lupa lontong opor.

Menunggu bubur langganan


Gudeg?? Hwaa.. bukannya tidak ada di daftar menu, tapi makanan khas ini jadi menu kalau ada keluarga datang, Wijilan mung sakplinthengan..

Siangnya banyak aktivitas yang menyenangkan bisa dilakukan, Jogja gitu loh... dan kami seringnya  ke lokasi yang budgetnya terjangkau

Main ke Kaliurang
Kaliurang dekat dengan kota Jogja, di sana juga ada taman yang ada permainan untuk anak. Kalau sedang ingin menghindar dari hingar-bingar Jogja biasanya kami escape di Kaliurang. Tapi kadang cukup menyambangi taman bermain Kaliurang, lalu pulang.


Bermain di Taman Kaliurang


Jalan-jalan ke Candi
Sayang kalau di Jogja tidak mengunjungi situs bersejarah, salah satunya candi.. banyak candi yang masih disekitaran Jogja bisa disambangi, candi Kalasan, candi Ratu Boko

Bermain di Candi Kalasan


Mancing
Gen anak saya sepertinya condong ke kedua kakeknya yang doyan mancing, mulai mancing kolam maupun hingga ke laut.. tak ayal dia punya ketertarikan dengan namanya ikan dan kegiatan memancing.. setiap mancing, walaupun cuma mancing ikan nila, patin atau lele dia selalu ingin menarik reel pancingnya ketika strike...

Strike...


Ke Pantai
Terus terang, agak alergi juga bawa kamera kalau ke pantai ini, ya.. kamera Nikon saya pernah dilibas sama ombak di Parangtritis, yo lengkap sama tas-tasnya.. jadi ke pantai juga milih-milih yang gak terlalu landai, biasanya ke pantai jarak sedang seperti pantai Ngandong, jarak dekat pantai Depok atau Samas, yang jauh ke pantai Pok Tunggal. Yang lebih berbobot lagi ya camping di pantai.

Bermain di pantai


Ke Sermo / Bendungan
Tahukah anda kalau di Jogja banyak jalur pengairan buatan yang unik, misal jembatan crossing air di daerah Pogung, atasnya masih dilewati kendaraan lagi.. Di bagian hulu, daerah Kulon Progo ada Waduk Sermo yang cocok juga dikunjungi, di Perbatasan Bantul dan Kulon Progo ada pintu air yang cukup besar, dan sering dijadikan tempat nongkrong masyarakat sekitar..

Melihat bendungan


Main ke Tempat teman
Jogja tempat bercengkrama, mungkin itu juga yang membuat kami sering main ke tempat teman untuk menghabiskan waktu weekend, sekedar makan-makan bersama atau anak kami main bareng sudah cukup mengobati kerinduan akan bersosialita.. Anak saya senang sekali ketika saya main ke tempat teman saya di Bantul, di belakang rumahnya ada kandang sapi dan kambing, eh.. dia pengen megang tu kambing.. dan menirukan suara sapi, mooo...

Ngasih makan sapi gratis.. kalo di tempat lain bisa bayar..

Malam di Jogja juga banyak hal yang masih bisa dilakukan, walaupun makan menjadi kegiatan utama, haha...

Main ke Taman Lampion
Museum Jogja Kembali yang terletak di Ring Road Utara sudah dipercantik dengan adanya hiasan-hiasan lampion cantik. Konsepnya mirip dengan Batu Night Spectacular di Batu, Malang. Sesekali kami menyambangi taman ini untuk sekedar jalan-jalan.



Mungkin ini kebiasaan yang kurang baik, tapi sering kami lakukan dan menjadi salah satu penyebab jarum timbangan berat badan melewati angka 90 kg, hihihi... tapi memang menghabiskan minggu malam dengan keluarga dan bercengkrama sambil makan itu menyenangkan. Tempat makan yang paling sering kami sambangi adalah SS, Spesial Sambal, alasannya simpel.. mangane iso akeh, nglawuhi, murah.. 

Berbeda dari menu yang njawani, kami juga sering ke Nanamia Pizzeria, yang di Prawirotaman, karena dekat rumah dan memang anak saya suka sekali dengan pasta. Selagi menunggu, seringnya anak saya mewarnai atau main mainan yang disediakan disana. Lain halnya kalau keluarga datang, bisa ke Jejamuran yang jauh atau pesan satu ekor Ayam Bu Tini yang dekat dengan rumah.

Nanamia, resto yang menyediakan mainan untuk anak-anak


Yang agak ringan paling makan ice cream / gelato.. 

Nge-Es Krim dulu..


Nek wes males yo pesen Rata-Rata, hahaha...

Masih banyak lagi kegiatan di Jogja waktu weekend... Aiiihh.. dadi pengen bali ning Jogja...



***

Tulisan ini sejatinya untuk mengingatkan kami bahwa ada momen lucu ketikan pertamakalinya saya dan istri masuk ke mall di Jogja, Ambarukkmo Plaza... setelah kendaraan kami dicek dan masuk basement, kami saling tertawa karena tersadar bahwa itulah kali pertama kami masuk mall Jogja bersama-sama setelah pindah dari Jogja..


30 October 2016

Meniti Pesona Jawa Tengah di Setiap Kilometernya

Sedikit asing ketika saya membaca tulisan di bus yang melaju di jalan nasional dalam perjalanan menuju ke Jawa Tengah, "Jakarta - Karang Pucung via Majenang", pikir saya Jawa bagian mana lagi ada nama daerah Karang Pucung dan Majenang. Tanpa ambil pusing, saya ikuti bus tersebut yang ternyata sangat mahir dan meliuk-liuk menuju ke bagian selatan Jawa.

Road trip saya di Jawa Tengah pun dimulai, untuk menjelajah daerah yang telah lama saya tinggalkan. Yup, saya masih menyimpan SIM (surat izin mengemudi) yang diterbitkan oleh Kepolisian Daerah Jawa Tengah, tentunya saat ini sudah tidak berlaku dan sudah diganti dengan yang baru dari daerah lain... Ketika saya melewati gapura selamat datang di Jawa Tengah, saya takjub, bagaimana tidak, ini merupakan pengalaman pertama saya melakukan perjalanan darat ke Jawa Tengah dan terjawablah rasa penasasran saya terhadap Karang Pucung dan Majenang yang ternyata berada di Kabupaten Cilacap.. kedua daerah ini termasuk kecamatan ter-ujung barat dari Jawa Tengah walaupun dari namanya sepertinya masih terdengar sunda, dan saya baru tahu... *parah juga geografinya*... Perjalanan kami hentikan sejenak untuk istirahat di kota Cilacap.
 
Cilacap yang berada di bagian ujung selatan Jawa Tengah ini ternyata mempunyai potensi wisata yang sangat menarik, pantai menjadi kekuatannya.. sore hari saya dan keluarga bermain di Pantai Teluk Penyu dan menikmati masakan seafood yang enak dan segar saat disantap.

Pengunjung sedang menaiki perahu di pinggir pantai Teluk Penyu


Tak lengkap ke Cilacap kalau tidak ke Nusakambangan, rasa penasaran saya memuncak, saya terngiang cerita Nusakambangan yang konon mirip Alcatraz *serem sepertinya*... sehingga esok harinya saya memutuskan ke pelabuhan untuk mencoba ke Nusakambangan. Dugaan saya diputarbalikkan saat sampai di Pulau Nusakambangan, ternyata pulau ini tertata rapi dan mempunya potensi wisata pantai.

Pantai di Nusakambangan

Di Cilacap jangan tinggalkan kesempatan berfoto di depan tangki-tangki milik Pertamina, ya.. dimana lagi anda bisa berpose dengan latar belakang tangki-tangki raksasa?... Setelah cukup, kami beranjak kembali ke mobil, menyetir kembali di jalan-jalan Jawa Tengah dan memilih ke arah Dieng, tempat yang memiliki sisi romantisme antara saya dan istri saya. Jalan yang kami pilih adalah melewati Banjarnegara, saya terkejut saat sampai di Banjarnegara, bagaimana tidak, ini merupakan kali pertama kali saya ke sana... *apalagi istri dan anak saya*..

Saya baru tahu di Banjarnegara ada tempat yang asik untuk liburan, namanya Surya Yudha Park, akhirnya karena bujuk rayu, saya dan anak saya nyemplung sebentar. Disini ada beberapa wahana yang keren, ada kolam air, kolam ombak, hingga rafting.... tak sempat ke Singapura? replika patung Merlion pun ada..

Kolam Surya Yudha Park, Banjarnegara

"iki Jawa Tengah tho? nggumun aku..." guman saya sebelum meninggalkan Banjarnegara.

Setelah cukup, kami teruskan perjalanan ke Wonosobo dan puncaknya ke Dieng, jalannya yang berkelok-kelok mengingatkan saya dengan istri waktu bisanya motoran, jalan-jalan ke Dieng hanya untuk menikmati udara gunung yang sejuk terus langsung pulang lagi, karena kalau telat pulang kabut di lereng Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing sudah pekat... tak aman...

Telaga Warna, Dieng

Makan jagung bakar dulu

Menyantap jagung bakar sambil melihat keindahan alam yang dimiliki Dieng ternyata melupakan saya dari rutinitas pekerjaan, tak terlihat angka-angka di Dieng, yang ada adalah keindahan dari Sang Kuasa.. ahh.... kecantikan sunrise di bukit Sikunir yang tak sempat kami lihat sudah cukup terobati dengan suasana seperti ini ditambah kesempatan menghabiskan semangkuk Mie Ongklok khas Wonosobo yang istri saya sangat suka.

Kami sudah menginap di daerah Cilacap, istri saya sudah dapat SMS dari temannya yang ngajak main ke Bandungan, mereka bareng keluarga juga... pucuk dicinta ulam pun tiba, diputuskanlah menginap sharing di Bandungan, daerah sekitar Ambarawa yang menyimpan spot wisata menarik. Perjalanan dari Wonosobo pun dilanjutkan, lalu menembus jalan kecil di daerah Sumowono, daerah dengan jalan menegangkan bagi yang suka perjalanan darat. Rute ini diberi tahu oleh rekan saya dari Semarang, kamipun sampai di Bandungan dengan cepat dan selamat.

Penginapan di Bandungan, brrrr....

Jawa Tengah terkenal dengan pesona sejarahnya, banyak candi-candi, museum dan bangunan bersejarah menyimpan pesona wisata tersendiri. Salah satunya candi Gedong Songo yang termasuk candi Hindu ini berada di Bandungan, dekat tempat saya menginap. Suasana sejuk khas pengunungan dan pemandangan yang apik tersaji disini. Tak banyak candi yang berada di dataran tinggi di Jawa Tengah, saya hanya tahu tiga tempat, di Bandungan, Tawang Mangu dan Dieng.

Kawasan Candi Gedong Songo

Menaiki kuda di kawasan Candi Gedong Songo

Anak dan istri saya menikmati bermain di sekitar candi Gedong Songo ini, bagaimana tidak, disini yang merupakan objek wisata ada fasilitas tunggangan kuda yang mungkin sulit didapat, walaupun bertarif? coba dimana? Bromo? Lembang?.. Tawangmangu? Ini sebuah kemajuan pariwisata.

Tak jauh dari Bandungan kami berhenti sejenak di Umbul Sidomukti, tempat yang menurut istri saya dari hasil googling dan blogwalking ada tempat bermainnya. Akhirnya nyemplung juga di kolam yang mempunyai pemandangan indah tersebut.

Umbul Sidomukti

Pemandangan dari Umbul Sidomukti

Perjalanan belum usai, dan anak saya yang powernya lebih, gimana coba, kami udah capek dia masih on fire, saya kadang gumun sama anak satu ini, tahu aja kapan harus tidur dan kapan on fire. Kalau jalan masih jauh dia tidur di mobil, bangun kalo pas laper, pas mobil berhenti macet atau sampai tempat tujuan, apa indera keseimbangannya punya pendeteksi khusus kendaraan berhenti, mana kadang ngeces juga, hehe.... untungnya istri saya selalu bawa baju ganti lebih, kadang-kadang kalau anak saya keringatan bajunya diganti.
Kota terdekat adalah Ambarawa, di sini ada museum yang terkenal dan satu-satunya di Indonesia, yup adalah Museum Kereta Api, museum ini menyimpan koleksi dari lokomotif yang pernah berjasa untuk membangun Indonesia, dan mungkin ikut dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Museum Kereta Api, Ambarawa

Saya dan istri sempat beradu argumen tentang tujuan selanjutnya, Magelang atau Salatiga? saya memilih Magelang ada tempat penginapan yang cukup lumayan, ada tempat permainan taman Kiyai Langgeng, ada mall, kulinernya juga lumayan seperti favorit saya Sop Snerek namun apa dikata justru Salatiga yang dipilih, walaupun jurus alasan saya "kan dari Magelang bisa langsung Salatiga via Kopeng"... alasannya simpel, karena ada keluarga yang menawarkan tempat menginap yang tentunya bisa mengurangi biaya, dan kalau mau bermain dia yang bertanggung jawab. Okelah, berbekal GPS kami dari Ambarawa melewati Banyubiru, daerah pinggir Rawa Pening yang terkenal menuju Salatiga.

Esok paginya, saya langsung menikmati teh panas serta ketela goreng buatan saudara istri saya, batin saya inilah karakter wong Jowo yang ramah, di pagi itu juga saya berfikir keras apa yang bisa dinikmati oleh anak saya di sekitar Salatiga, pikir saya bangunan bersejarah atau lainnya... ternyata lamunan dihentikan oleh anak saya yang berlari keluar dari rumah, saya pikir gempa atau ada apa, ternyata odong-odong sudah ada di luar rumah.

Bocaaaaah... ternyata nyari odong-odong

Mobil gowes di Lapangan Pancasila, Salatiga

Malamnya menikmati suasana riuh di Lapangan Pancasila, Salatiga, naik mobil gowes... ahh, begini saja anak saya sudah senang... Wisata tak hanya ke tempat - tempat terkenal saja, tapi dengan menikmati hal-hal yang tidak terdapat di rumah itu juga termasuk wisata.

Kota Solo (dari kata Sala) atau kadang disebut Surakarta sangat membekas di pikiran saya, gimana nggak.. di kota ini saya mengalami bandel-bandelnya saya... patah tangan sampai dua kali di lapangan bola yang sama, bocor kepala sampai harus ngendon di Rumah Sakit, di kota ini pula saya digembleng untuk mandiri dan bangkit dari keadaan untuk meraih cita-cita... Dari sekian banyak hal terbesit dari kota Soto dalam pikiran saya hanya dua waktu itu.. HIK (Hidangan Istimewa Kampung alias Angkringan) dan Soto, pilihan jatuh kepada semangkuk Soto, eh tiga ding.. 

Soto Ayam Pak Harto
Soto berkuah bening khas solo dengan suwiran ayam ini sangat memanjakan lidah saya ditambah sate ayam yang bisa saya habiskan 5 tusuk sendiri, penjual soto ini sudah dua generasi berjualan, saya termasuk beruntung bisa menikmatinya.

Kami menginap di Solo Paragon Hotel, hotel yang saya tahu terletak di tengah-tengah kota Solo, dekat lapangan Kotabarat yang terkenal dengan tempat kuliner kota Solo, menu susu segar coklat panas dari Shi-Jack favorit saya.

Malamnya di hotel, telepon istri saya berdering.. Tetangga saya sebelah rumah yang ternyata orang Cepu memberikan rekomendasi destinasi wisata di Blora. Sambil manggut-manggut istri saya mencatatnya sambil bilang ke saya setelah menutup teleponnya "kita belum pernah ke sana kan pah?"

Setelah renang dan check out dari hotel kami langsung ke bergerak ke Tawangmangu, rencananya kami mau ke Grojogan Sewu, kebun Teh Kemuning dan mendongengkan kepada anak saya tentang serunya camping dan mendaki Gunung Lawu. Sampai di Tawangmanu, dan membayar retribusi kami baru sempat berhenti makan di sebuah warung, ketika memeriksa mobil, lampu kabut sebelah kiri pecah terkena batu dan mungkin konslet sehingga lampunya mati, mungkin karena ada saja batu di jalan berkelok-kelok sehingga kami terpaksa demi alasan keselamatan karena lampu mati kami harus segera kembali ke Solo dan hanya menikmati makan di Tawangmangu dan menghirup udara sejuknya lereng Gunung Lawu yang tak tergantikan... Di Tawangmangu saya sempat bercengkrama dengan rombongan touring dari Jogja yang mau ke Madiun, mereka memilih lewat Tawangmangu karena ingin menikmati keindahannya.

Mampir di Warung Makan Bu Sri, Tawangmangu

Untung saja di Solo ada bengkel yang dapat menangani kasus mobil kami, sehingga lampu mobil bisa menyala kembali dan segera kami menuju ke daerah tetangga saya, Cepu.. Perjalanan ke Cepu dari Solo bagi saya merupakan perjalanan yang paling berat dan menantang di Jawa Tengah.

"jika menghindari lubang di jalan itu membuatmu semakin cinta dan ingat dengan jalan tersebut, maka nikmati setiap goyangannya, karena pas kamu kembali lewat jalan yang sama, belum tentu goyangan itu masih ada..."

cek ban dulu


Jalan menuju ke Cepu mengingatkan saya sewaktu dulu pernah ditugaskan terjun ke masyarakat di Juwangi, Boyolali.. melewati dan membelah hutan yang hawanya panas, ditambah ban kempes. Sesampainya di Cepu kami langsung tidur, capeek..

Grand Mega, Cepu

Paginya kami diajak menikmati wisata sumur minyak Wononcolo, satu-satunya sumur minyak di Indonesia yang ditambang oleh rakyat, bagi saya orang teknik, ini sangat menarik sekali.

Sumur minyak yang ditambang rakyat

Selama perjalanan dari Cepu ke Semarang, kami tak sempat ke Lasem sehingga tidak banyak yang spesial, kecuali hati dan pikiran saya dibuat terhenyak oleh diskusi dengan ibu penjual nasi Gandul di alun-alun Pati, anaknya sukses kerja di pertambangan daerah Kalimantan, karena dia termasuk yang berhasil di sekolahnya... Kami dibuat tersadar, pariwisata tidak sekedar foto, tapi ada cerita dibalik aktor pendukung dan keluarganya yang sukses karena pariwisata.


Ahh... sampai juga di Semarang, masuk kota ini langsung ingat jaman AADC, gimana tidak.. saya dan teman-teman dulu rela ngebis dari Solo ke Semarang hanya untuk nonton bioskop.. hahaha... kali ini tidak ada nostalgia nonton bioskop, yang kami tuju pertama kali adalah warung Bakmi Semarangan Dul Numani, di Jalan Pemuda, Semarang.. mau nostalgia mie dulu... Mie Goreng yang saya pilih karena teksturnya dan rasa mie yang cenderung manis menjadi alasan saya memilihnya.
 
Jalan Pemuda diwaktu malam

Mie Goreng Semarangan


Menginap di mess Masjid Agung Jawa Tengah

Sejatinya kami di Semarang mau beristirahat, karena dipesankan satu kamar mess di Masjid Agung Jawa Tengah oleh saudara saya, lalu mengakiri perjalanan dan kembali ke Jawa Barat. Tapi rugi kalau sudah ke Semarang tapi tidak berkunjung ke rumah teman, namun acara silaturahmi dibatalkan karena dapat info kalau anaknya teman istri saya dirawat di salah satu rumah sakit di Semarang, kami pun ke sana. Ke rumah sakit di Semarang mengingatkan saya akan RS Tlogorejo sekarang besar dan baru, namun suatu prasasti di dalam rumah sakit tersebut mengingatkan saya tentang umurnya, bangunan yang mungkin dulu mempunyai sejarah khusus. Potensi bangunan-bangunan bersejarah di Semarang tentunya sangat banyak, mulai dari bangunan di kawasan kota tua hingga Lawang Sewu yang terkenal.

Langsung akrab

Prasasti di RS Tlogorejo, Semarang

Siangnya kami memutuskan untuk kembali ke Jawa Barat, mengakhiri perjalanan kami melintasi Jawa Tengah dengan pesona wisatanya. Saat sampai daerah Kendal, saya sempat berhenti sebentar karena melihat ada rumah-rumah yang bentuknya aneh, ternyata itu kawasan pembuatan batu bata di Kendal, potensi wisata disini tentu saja sangat tinggi dan bisa jadi kawasan wisata baru di Jawa Tengah. Bagaimana tidak, dimana lagi ada kawasan wisata pembuatan batu bata? Kalau saja kawasan sentra pembuatan genteng seperti di Kebumen dan sentra pembuatan batu bata di Kendal dijadikan kawasan wisata, masuk dalam hot-spotnya google map, tentu akan menambah minat orang-orang yang mempunyai passion di bidang teknikal dan travelling untuk mengunjunginya... mungkin beberapa tahun kemudian ada wisatawan yang bertanya kepada pengrajinnya... di suhu berapa pak pembakaran batu bata yang sempurna? sudah ada hasil laboratoriumnya belum?... mimpi yang mungkin bisa menjadi nyata..


Kampung pengrajin batu bata, Kendal

Masih ada suatu daerah lagi yang memiliki sejarah romantisme saya dengan istri saya, daerah yang dari sejarahnya merupakan daerah kremun-kremun dari pulau Jawa oleh Sunan Muria, yup saat ini disebut Karimun Jawa yang masuk daerah Jepara. Karimun Jawa masih tertulis di Dive Log saya dan istri sebagai tempat menyelam. Menyelam kembali di Karimun Jawa tentunya sungguh menyenangkan... Dan anda bisa melihat destinasi lainnya di website resmi Pariwisata Jawa Tengah.

Perjalanan diakhiri dengan menekan pedal gas ke arah barat melewati Pemalang hingga Brebes menuju Jawa Barat, rumah, woow.. what a great journey...


Pemalang, lanjut....

Lebih ribuan kilometer sudah ditempuh saya, istri dan anak saya bersama mobil kecil ini di Jawa Tengah dan memberi pengalaman mengasyikkan. Gayeng tenan...


Tips dari saya :
- Istirahat bila lelah, banyak lokasi tempat istirahat dan di Jawa Tengah orangnya ramah-ramah
- Pilih istri yang bisa nyetir, hahahaha... biar bisa gantian kalau capek, bercanda ding.. kalau bisa.. kalau gak bisa, istri suruh belajar nyetir...
- Cek kondisi kendaraan secara rutin
- Peta jalan sangat perlu, namun yang paling perlu adalah bertanya "nyuwun sewu, kulo keblasuk niki.. arah ten ...(tujuan).... pundi nggih?" yang kalau diartikan "mohon maaf, saya tersesat, arah ke (tujuan) mana ya?"

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah

21 October 2016

Staycation di Hotel Santika Kelapa Gading

Weekend mau ke mana? ternyata yo bosen juga cuma di rumah aja.. tiba-tiba (sering banget tiba-tiba) kepikiran gimana kalo staycation sebentar ke hotel mana gitu.. terpilihlah  Hotel Santika Kelapa Gading, Jakarta.. Kenapa pilih ini? Pilihan ini sejatinya karena saya sering menginap di grup Santika Hotel, dan menjadi member Santika.

Berbekal booking dari Traveloka, harga semalam cukup terjangkau sudah termasuk sarapan pagi.. dibanding dengan hotel sejenis di kawasan tersebut.. akhirnya kita coba hotel ini.



Lokasi

Hotel Santika Kelapa Gading terletak di Mahaka Square, Kelapa Gading.. gedung yang sama dengan GOR Mahaka, arena basket yang biasa dipakai untuk pertandingan IBL (Indonesia Basketball League). Bagi anda penikmat basket, dan mungkin venue-nya ada di Mahaka Square maka Santika Kelapa Gading merupakan pilihan yang tepat.

Kami sempat kesasar sedikit waktu di Kelapa Gading mau ke hotel, memang karena lokasinya agak nyempil jadinya perlu lebih awas lihat jalan apalagi map.




Selokasi dengan ini ada beberapa tempat makan, namun tidak kami coba karena kami lebih memilih cari tempat di sekitaran kelapa gading.


Fasilitas

Superior Room
Kamar yang saya pesan di Traveloka awalnya adalah superior room, karena setelah baca beberapa review sudah cukup luas untuk bawa keluarga.




Di kamar superior, kami disuguhi kamar yang cukup walaupun tidak terlalu luas namun cukup untuk keluarga, untuk kelas hotel bintang tiga yaa.... Perlengkapan mandi juga disediakan. Untuk amenities dimana merupakan bagian favorit anak saya ternyata cukup lengkap, terutama adalah botol air mineral... biasa, hobinya anak-anak masuk hotel langsung pengennya buat teh hangat.

Kami menghabiskan 2 malam di kamar superior, dan selanjutnya pindah ke kamar deluxe.. kok pindah? ya ternyata setelah melihat harga cuma beda tipis antara deluxe dengan superior untuk rate per malamnya, jadinya langsung pindah setelah habis vouchernya.

Di kamar colokan listrik cukup banyak disediakan, tidak seperti hotel lain yang kadang tidak menyediakan fasilitas colokan di dekat kasur.


Deluxe Room

Perbedaan kamar superior dan deluxe ternyata jelas, mulai dari ruang kamar yang lebih lega, tambahan furnitur dan lemari baju yang lebih besar. Untuk ukuran kasur, sama saja..  Selain itu di kamar deluxe disediakan lemari es, lumayan kalau mau minuman dingin.




Jika ada satu yang perlu dipertimbangkan adalah ukuran TV, dengan kamar yang besar belum diimbangi dengan ukuran TV yang besar juga, ngarep...

Kamar Mandi

Kamar mandi di kedua kamar hampir sama, dan saya cukup senang dengan model shower yang besar.. mandi serasa mandi..

Sarapan

Ini bagian favorit saya, makan.. makan..
Karena vouher hotel sudah termasuk sarapan pagi untuk 2 orang, yang maju ya saya dan putri saya.. nyonya masih betah di kamar..



Menu restoran banyak banget, mulai dari masakan indonesia, masakan barat hingga masakan asia. Mungkin karena banyak tamu asing yang datang ke Jakarta, khususnya lebih memilih di Kelapa Gading karena dekat dengan kawasan industri. halah.. malah..

Last but not least..

Bisa nyobain sushi.. trus sereal dan ditutup dengan ngeteh..







Copyright © West Borneo Road Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com