Indonesian who support traveling with family or kids, take photo and diving

22 June 2019

Pengalaman Naik Philippines Airlines - Airbus A320 dan A320neo family

Gak pernah menyangka kalau akhirnya naik maskapai Philippines Airlines ini sebelumnya, tapi kenapa jadi naik ini karena dapat tiket yang murah ya sekitar NT$5000 atau dibawah 2,5 juta rupiah untuk penerbangan Taipei-Manila-Jakarta pulang pergi, yang artinya 4 kali naik pesawat. Atau kalau dijadikan rerata NT$1250 per pernerbangan atau sekitar 750 ribu rupiah sekali terbang, Full Service Airline lho alias dapat makan dan dapat bagasi, international flight lagi.

Terbang dengan Philippines Airlines


Jadi ceritanya pas winter break kuliah, beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di sini pengen pulang, nah pas bulan Desember ternyata pada mantengin situs skyscanner setiap hari. Muncul Philippines Airlines (PAL) yang murah pada tanggal yang diinginkan. Riset dikit tentang positif dan negatifnya naik PAL ternyata yang jadi momok nantinya pas di bandara Manila, hee... Karena prioritas satu adalah harga jadinya ya perjalanan pulang pergi pakai PAL semua. Bagaimana perjalanannya dengan maskapai yang menurut skytrax menjadi Most Improved Airline tahun 2019 ini, simak berikutnya.


Check In & Boarding di Taipei
Di bandara Taipei Taoyuan International Airport, penerbangan PAL dilakukan dari Terminal 1, kita harus standby di depan konter sebelum konter dibuka dan ini cukup memakan tenaga dan waktu. Setelah itu ternyata pesawat tidak parikir langsung di depan departure gate sehingga kita perlu untuk naik bus terlebih dahulu, gak masalah, ya.. dapat harga murah, hee..

check-in counter di Taoyuan Airport, Terminal 1

naik bus dulu untuk ke pesawat

naik tangga ke pesawat

Check In & Boarding di Jakarta
Kalau di Jakarta, awal tahun 2019 PAL dilayani di Terminal 2D/E saya lupa tepatnya yang mana, dan pesawatnya berada tepat di depan departure gate sehingga tidak perlu naik bus dahulu, tetapi ini tentunya tergantung kepadatan bandara pada saat itu, keadaan bisa berubah.

check in counter di Soekarno-Hatta, Terminal 2

naik pesawat

Yang saya perhatikan cuma logo skytrax di setiap pintu masuk pesawat, mungkin karena mereka ingin meningkatkan pelayanan, logo skytrax bintang empat mereka taruh di samping pintu. Lalu mungkin ada pertanyaan, delay nggak? waktu Taipei-Manila-Jakarta dibilang delay ya nggak juga karena boarding tepat, kalau take-off tetap tergantung otoritas bandara. Kalau dari Jakarta tepat waktu (waktu itu lho).


Cabin Experience
PAL mayoritas menggunakan pesawat buatan Airbus sebagai armadanya, tentunya ini juga berdampak pada penerbangan kami kali ini karena semuanya menggunakan pesawat Airbus A320 family dan A320neo family, Tapiei - Manila dengan A321, Manila - Jakarta dengan A320, Jakarta - Manila dengan A321neo dan Manila - Taipei dengan A321. Menurut saya gak ngaruh sih model A320 atau A321, karena memang satu keluarga A320 family tapi A321 menang lebih lapang, toilet lebih banyak apalagi A321neo yang lebih baru. Untuk urusan inflight entertainment juga tidak jadi jaminan A321 lebih unggul.

A321, Taipei - Manila

Overhead bin, for cabin luggage, A321

A321 legroom

A321 overhead panel, (AC, reading lamp)



another A321, Manila - Taipei

Secara umum kabin A321 (Taipei - Manila dan Manila - Taipei) menurut saya lebih terasa besar, tapi memang lebih besar karena kapasitasnya lebih banyak dibanding dengan A320 (Manila - Jakarta). 

A320, Manila - Jakarta

Overhead bin and panel, A320

Yang membuat saya terkejut adalah ketika perjalanan ke Manila dari Jakarta ternyata PAL menggunakan pesawat A321neo yang merupakan pesawat baru keluarga A320neo family, tentunya kabinnya lebih fresh terlihat dari kabin bisnis yang modelnya miring-miring, opo iki miring-miring?, kabin ekonomi yang minimalis tapi terlihat segar dan keren.

My favourite A321neo cabin of  PAL

A321neo, Jakarta - Manila

A321neo, toilet in the middle of cabin

Toilet
Khusus A321neo karena baru, saya tambahin kondisi toilet yang ada di kabin pesawat, selain menyediakan tissue, PAL juga menyediakan sabun, cologne dan lotion di dalam toilet A321neo ini. Air di wastafel juga bisa panas dan dingin. 

toilet A321neo

wastafel A321neo


Inflight Entertaniment
Ini yang seru, kenapa seru karena tiap jenis pesawat punya ciri khas masing-masing yang saya sendiri bingung. Tapi satu yang bisa saya tangkap kalau PAL berusaha sebaik mungkin menghadirkan inflight enertainment di setiap jenis pesawat yang mereka gunakan, setidaknya dari ke-empat penerbangan dengan berbeda-beda registration number mereka menyediakan inflight entertainment. 

Bacaan
Seluruh pesawat dan penerbangan disediakan baik itu majalah Mabuhay yang tiap bulan berganti edisi, atau koran  sebagai bacaan untuk para penumpang. Saya sendiri lebih memilih membaca majalah Mabuhay, sedangkan rekan saya memilih baca koran.

majalah Mabuhay (edisi Taipei - Manila - Jakarta)

majalah Mabuhay (edisi Jakarta - Manila - Taipei)

rekan saya baca koran

Internet dan Inflight Entertainment via WiFi
Nah, Airbus A321 yang kami naiki baik Taipei - Manila maupun ketika kembali Manila - Taipei, semuanya tidak dilengkapi dengan inflight entertainment (layar) baik tiap kursi maupun sharing. Namun itu keinginan untuk menikmati penerbangan tersebut terwujud karena disediakan WiFi sehingga kalau kita ingin menikmati inflight entertainment justru bisa dari ponsel masing-masing. Untuk dapat menikmatinya kita harus terkoneksi dengan SSID di pesawat, lalu akan diarahkan untuk mengunduh aplikasi myPAL dan login untuk bisa memulai menikmati entertainment. Hampir semua fitur ada di aplikasi tersebut seperti musik, film termasuk informasi penerbangan, justru makin privat tapi kecil layarnya kalau nonton melalui smartphone.

menu myPAL

nonton film, otomatis pause kalau ada informasi dari pilot / flight attendant

Shared entertaiment
Untuk A320 yang kami naiki, tidak ada WiFi, tapi disedikan layar (shared) terletak di panel atas yang memutar film selama penerbangan. Untuk mendengarkan audio-nya bisa kita gunakan earphone milik sendiri dimasukkan ke soket audio yang ada di sandaran tangan masing-masing kursi. Tidak hanya itu, kita juga bisa mendengarkan channel lain dengan mengganti channel lewat tombol yang ada di sandaran tangan.

layar inflight entertainment

socket dan tombil pengatur audio di sandaran kursi

Personal AVOD (Audio Video On Demand)
Tipe ini yang mungkin paling banyak ditemukan di maskapai full service, personal AVOD (Audio Video On Demand) dengan layar sentuh. PAL menyematkan fitur ini pada pesawat A321neo milik mereka. Selain itu juga disediakan headphone untuk menimkati audio-nya.

personal AVOD, A321neo

headphone disediakan


Inflight Meals
Ini kami acungi jempol, PAL dapat menyediakan makanan halal untuk kami, tentunya setelah kami request kepada travel agent untuk mendapatkan special meal Moslem Meal (MOML). Untuk masalah makanan, sepertinya PAL mempunyai standar jenis dan banyaknya makanan tergantung waktu penerbangan atau jarak penerbangan. Karena jumlah makanan yang diberikan penerbangan antara Taipei - Manila tidak sama dengan Manila - Jakarta, begitu pula untuk penerbangan sebaliknya.

nasi, sayur, ikan dan puding untuk MOML Taipei - Manila

main course nasi, sayur, ikan, plus salad, puding dan roti untuk MOML Manila - Jakarta 

main course nasi sayur daging, plus salad, brownies dan roti untuk MOML Jakarta - Manila

masi goreng ayam fillet plus telur dengan buah untuk MOML Manila - Taipei


Meminta Halal Meal
Philippines Airlines sejatinya menyediakan makanan halal apabila kita memesan sebelumnya. Nah karena kita beli via skyscanner, yang default-nya makanannya normal (ikut maskapai) bukan special request, jadi kita perlu kontak dengan travel agent untuk bisa mendapatkan Moslem Meal (MOML) selama penerbangan, Alhamdulillah semua dapat Moslem Meal walaupun travel agent yang digunakan beda-beda. Caranya gimana? cukup email saja travel agent yang sudah mengirimkan tiket pesawat pada kalian.


Transfer di Manila
PAL di Ninoy Aquino International Airport, Manila dilayani di Terminal 2, kalau untuk kondisi fisik bandara ya lumayan tapi tidak juga menarik bahkan menurut kami ada beberapa fasilitas yang perlu ditingkatkan. Terminal 2 dilengakapi beberapa toilet, water dispenser, banyak restoran, kedai tapi burung (burung beneran) bisa membuat sarang di ruang tunggu, mesin X-ray untuk penumpang transit/transfer yang cuma 1 buah (kalau transitnya lama sih oke, kalo pendek dan harus antri itu buat deg-degan), no religious activity room for public in departure gate, transfer desk kecil trus ga ada money changer dan aplikasi free wifi tak semudah ngerayu officer bandara.

landing di Manila

pesawat berbaris di bandara Manila

Non-layover transit
Saya gak ngerti kebijakan PAL seperti apa terkait penumpang transit karena walaupun kami transit 1 jam bahkan 8 jam, tidak jelas kami bisa ngapain dan dapat apa saja. Karena setelah landing penerbangan pertama kami langsung diminta untuk naik ke departure gate sehingga gak bisa kemana-mana, padahal penerbangan masih 8 jam lagi. Internet juga tidak bisa register (kala itu gak ada menu yang bisa menerima nomor telepon dengan kode +62 dari Indonesia). Ya jadinya tidur-tiduran, main games, baca aja selama 8 jam itu. Kalau ditanya bosen gak? Ya iya, gak cuma kami tetapi ada mbak-mbak mau ke Indonesia juga dari Jepang merasakan hal yang sama. Sebaiknya kalau nanti naik PAL dan harus transit (non-layover) bawa bekal yang cukup termasuk uang Peso supaya bisa beli makanan.

transit di Manila, duduk menunggu penerbangan berikutnya

Kalau yang mengikuti social media PAL, akan sering melihat posting terkait keterlambatan / delay. Ya ini hal yang lumrah karena penerbangan padat tapi bandara gak sebesar KL bahkan SHIA sendiri, waktu penerbangan Jakarta-Manila-Taipei, kami mengalami delay di Manila karena penerbangan pagi di Ninoy Aquino International Airport memang lagi pas padat-padatnya, delay yang sebelumnya diinformasikan tidak tahu sampai berapa lama, sampai-sampai ada yang ditawarkan untuk ganti penerbangan dan free tour di Manila, eh, tiba-tiba sekitar 45 menit kemudian ada kepastikan untuk boarding dalam waktu dekat karena ada berita pesawatnya ready, hihi..


Layover-transit
Kebetulan teman saya dapat transit jenis ini ketika kembali ke Taipei, karena harus menginap di bandara maka PAL menyediakan fasilitas transit lounge, tentunya lebih nyaman daripada harus duduk terus di kursi tegak departure gate. Minuman dan makanan juga ada, disediakan. 

transit lounge PAL

bisa sedikit rileks kalau di lounge


Arriving
Sampai Indonesia, pesawat PAL parkir di Terminal 2, saya lupa 2E atau 2D. Lalu menunggu bagasi untuk keluar, tidak terlalu lama juga menunggunya. Kali ini saya salut sama pelayanan di SHIA yang semakin baik.

menunggu bagasi di Soekarno-Hatta International Airport, Terminal 2

At the ends, bagi saya PAL pesawatnya bagus-bagus, makanan halal juga tersedia, hanya saat transit di Manila Ninoy Aquino International Airport kita agak kewalahan untuk bisa berinternet, kecuali dengan roaming. Kalau memang masalah transfer itu gak menjadi hambatan, cukup recommended kok ini maskapai.

---

Tips:

  1. Kalau harganya murah dibanding LCC, ambil aja
  2. Kalau sudah dibeli dan transitnya lama di Manila, siap-siap bawa bahan bacaan / games atau apalah untuk menghabiskan waktu selama transit. Ga ada public wifi / free internet khusus untuk nomor HP +62 ataupun +886, asli!
  3. Tukar Peso dulu sebelum berangkat, buat cari makanan
  4. Kalau bisa masuk transfer lounge, lebih baik
  5. Download dulu aplikasi myPAL supaya pas udah naik pesawat dan harus pakai wifi langsung tune in.
Ada yang dapat pengalaman lain? Share boleh juga kok..

0 comments:

Post a Comment

Blog Archive

Copyright © West Borneo Road Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com